TRADISIONAL

MENGENAL JAJANGKUNGAN/EGRANG

HPI Banten | Rabu, 02 November 2016 - 19:53:55 WIB | dibaca: 1605 pembaca

Jajangkungan (Nama di Provinsi Banten), Engrang (Jawabarat), Ingkau (Bengkulu), Batungkau (Kalimantan Selatan), hingga Tilako (Sulawesi Tengah) adalah sebuah permainan dimana menurut Bausastra Djawa karangan W.J.S Poerwadarminto terbitan tahun 1939, engrang-engrangan berarti dolanan atau permainan yang menggunakan batang kayu atau bambu yang diberikan pijakan untuk berjalan.

Permainan Jajangkungan diberikan dimainkan dengan sepasang tongkat yang terbuat dari bambu/kayu setinggi 2-3 meter, sementara untuk pijakan kaki dibuat dengan ketinggian antara 30-60 cm dari ujung bawah tongkat.

Disejumlah daerah, umumnya permainan dilakukan sebagai adu ketahanan keseimbangan tubuh. Namun didaerah lainnya, permainan egrang ataupun jajangkungan dilakukan sebagai adu ketahanan fisik, strategi, dan konsentrasi karna harus memainkan egrang atau jajangkungan berupaya menjatuhkan lawannya. Dua kelompok pemain saling berpasangan satu lawan satu. Setelah saling berhadapan, pemain satu dengan lainnya saling menendang ujung egrang yang menyentuh tanah. Selain itu, dibeberapa daerah pesisir (pantura) permainan egrang lebih banyak dipadukan dengan permainan lain. 

Semisal permainan sepakbola, pukul kendi dan lainnya. Media bambu yang dipergunakan umumnya bambu tali (awi tali) ataupun bambu hijau (awi hejo) dan bambu hitam (awi hideung). Pemilihan bambu tali, hijau dan hitam bukan tanpa alasan. Selain mudah dalam proses pembuatan karena cepat kering, juga sangat kuat tidak mudah retak saat dijadikan pijakan. Selain itu bila disambungkan antara bagian bambu yang dijadikan pegangan dan pijakan tidak merekah dan justru sebaliknya semakin menjepit. Berbeda dengan jenis bambu lainnya seperi bambu gombong dan tanaman bambu lainnya yang cenderung sulit mongering dan mudah merekah serta rapuh. 

Proses pembuatan permainan egrang atau jajangkungan. Setelah ditebang, bambu yang dipilih adalah bambu yang sesuai dengan pegangan tangan atau bambu bagian atas. Bila tidak melalui proses pengeringan, batang bambu terlebih dahulu  dibersihkan. Pamasangan pijakan disesuaikan dengan urutan buluh bambu, buluh bambu bagian atas dipergunakan untuk pegangangan (bagian atas) sedangkan yang disambung dengan pijakan merupakan bulu bagian bawah.

CaraMembuat Egrang Adalah Sebagai Berikut:

Mula-mula¬†bambu¬†dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2¬Ĺ-3 meter. Setelahitu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuranmasing-masing sekitar 20cm untuk dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salahsatu ruas bambu yang berukuran panjang dilubangi untuk memasukkan bambu yangberukuran pendek. Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk digunakan.

Cara bermain Egrang untuk adukecepatan.

Seperti yang telah disampaikan di atas, apabila bermain Egrang ini hanya bertujuan untuk mengadu kecepatan, maka diawali dengan beberapa anak berada di garis start. Jika sudah ada aba-aba mulai maka para pemain akan berlari dengan menggunakan Egrang tersebut. Pemain yang lebih dulu sampai ke garis finish maka itulah yang di jadikan sebagai pemenangnya.

Cara bermain Egrang untuk menjatuhkan lawan

Cara bermainnya yaitu dilakukan oleh 2 orang. Setelah 2 orang tersebut sudah menaiki Egrang dan saling berhadapan serta sudah ada aba-abamulai maka mereka akan saling menjatuhkan dengan memukulkan kaki-kaki bambu lawan. Pemain yang bisa menjatuhkan lawan maka itulah yang di jadikan pemenang.

Permainan Egrang ini juga membutuhkan kerja keras, keuletan, dan sportifitas. Para pemain bekerja keras untuk mengalahkan lawan mereka. Membutuhkan keuletan dan ketekunan dalam proses pembuatan Egrang ini agar dapat seimbang ketika digunakan. Sikap sportifitas yang dimiliki olehseorang pemain saat bermain yaitu tidak berbuat curang dan mau menerima kekalahan.

Nilai Budaya

Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang adalah: kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilaikeuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (admin)

 

Sumber:

https://www.facebook.com/notes/aditria-sapta/artikel-tentang-permainan-tradisional-egrang-jajangkungan/470708033055172/

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=996&lang=id

dan dari berbagai sumber lainnya.










Komentar Via Website : 17
Kina
27 November 2016 - 14:49:17 WIB
Kina
27 November 2016 - 14:51:02 WIB
Kilo
27 November 2016 - 14:54:11 WIB
Herbal
27 November 2016 - 14:55:44 WIB
Umpan Ikan Mas
13 Desember 2016 - 14:23:54 WIB
sunggguh informasi yang anda bawakan sangat menarik dan bermanfaat, sukses selalu. By : http://essenkilogebrus.com/ | http://goo.gl/nka7rL | http://goo.gl/rPZuCY | http://goo.gl/RsYX3O | http://goo.gl/bLSjjP | http://goo.gl/oYj4Sm
obat tradisional liver
03 Januari 2017 - 15:04:29 WIB
Obat TBC Herbal
12 Januari 2017 - 14:58:00 WIB
Happy sunday bro..
http://goo.gl/XgqtVx
Harga QnC Jelly Gamat
12 Januari 2017 - 15:04:21 WIB
Sukses selalu, untuk keluarga anda, teimakasih atasi informasinya..
https://goo.gl/dpGwBv
|| https://goo.gl/OxFUTu ||
|| https://goo.gl/IaPlGW || https://goo.gl/7Xgskh ||
Cara Mengobati Keropos Tulang
03 April 2017 - 11:29:20 WIB
Terimakasih atas informasinya


http://www.herbal1tradisi.com/2017 /04/cara-mengobati-keropos-tulang.html - https://goo.gl/wbwDEA
AwalKembali 12 Lanjut Akhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)